Siapa sih Yesus itu?
“… aku percaya … akan Yesus Kristus,
… yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, wafat dan dimakamkan …”
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD
Setelah seorang Irene Handono, yang mengaku mantan biarawati Katolik
itu memberi kesaksian dengan menyudutkan agama Kristen, kini muncul lagi
ustadz Drs H. Wakhid Rosyd Lasiman, yang mengklaim pernah menjadi misionaris
Katolik di lingkungan pulau Jawa ini, melancarkan serangan yang tak
tangung-tangung; bahwa Yesus beragama Islam. Dalam bukunya “Yesus
Beragama Islam”, dia menulis: “ternyata ketika saya teliti, tidak ada
satu kata pun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus beragama Katolik
atau Protestan.” Sesudah membuat perbandingan dengan caranya, dia
mengatakan Yesus adalah muslim sejati yang melaksanakan kalimat
syahadat. Dia bukan Tuhan, tetapi hanya utusan (bdk. Tabloid Sabda:
sarana kerukunan antar umat beragama, Jkrt/agustus'05-hal 4).
Banyak pihak memprediksi kesaksian ini akan menggoncangkan iman orang
Kristen, tetapi ternyata gagal; kesaksian ini terasa lucu dan sangat
dangkal. Mengapa? Karena banyak hal yang melatarbelakangi kesaksian itu
nampaknya dipaksakan dan ayat-ayat Kitab Suci yang digunakan juga
kontradiktif dengan kesaksiannya sendiri. Ayat yang dikutip terkesan
ngawur dan asal comot (tak perlu saya memberi contoh nanti terlalu
panjang dan membias). Saya cenderung melihat kesaksian ini dari sisi
Injil hari ini, yakni tentang pertanyaan Yesus: “Kata orang siapakah Aku
ini?”
Mungkin pertama-tama sebaiknya kita menentukan dulu
sikap atas kesaksian tadi: dari dulu sampai sekarang tantangan yang
dihadapi pengikut-pengikut Kristus tidak pemah berhenti. Umumnya kalau
kesaksian itu lahir dari nurani yang bersih dia akan bertahan; tetapi
kalau lahir dengan maksud-maksud tertentu, dia akan pupus dan hilang
bersamaan dengan waktu. Walau demikian, ada baiknya kalau kita memakai
semuanya itu sebagai sarana atau peluang untuk memperteguh iman; peluang
untuk berusaha lebih mengenal siapa itu Yesus bagi kehidupan tiap-tiap
kita.
Seandainya orang bertanya kepada saya, Yesus beragama
apa? Saya akan menjawab dengan tegas: “Yesus bukan beragama Katolik,
bukan beragama Protestan, bukan juga Islam; Dia tidak berdiri di balik
sebuah agama. Kekristenan muncul sebagai buah dari inspirasi hidup dan
ajaran Yesus. Keyakinan bahwa Yesus adalah Kebenaran dan Hidup
menumbuhkan komunitas Kristiani dan gerak hidup mereka ini diterangi
oleh Roh Kudus. Yesus bahkan pernah berjanji: “Jangan takut, Aku
menyertai kamu sampai akhir zaman.”
Menarik: Yesus tidak bertanya apa kata Kitab tentang Aku, tetapi apa kata orang / apa katamu tentang Aku?
Kalau kita rujuk pada Kitab Suci, berita atau nubuat tentang Yesus
Kristus sudah ada sejak dari awal. Dia yang adalah “Tunas Kehidupan:
yang ada sejak dari awal dunia” ini memang berinkarnasi mengambil rupa
seperti manusia kecuali dalam hal dosa. Dia dari kaum anawim - bukan
orang mapan; Dia datang dari desa Nazareth wilayah Galilea. Nazareth
sendiri bagi orang Yahudi merupakan kota yang tidak diperhitungkan;
begitu juga Galilea bagi mereka hanyalah daerah orang-orang kafir, yang
tidak terlalu paham hukum agama. Dari sisi politik, Galilea adalah
daerah yang menderita akibat penjajah. Maka gagasan Yesus sebagai
“pembebas dan penyelamat” sangat kuat hidup dalam alam pikiran bangsa
ini. Dalam Perjanjian Baru, penginjil melukiskan Yesus sebagai orang
yang penuh belas kasih. Dia memiliki visi hidup yang jelas dan tegas
serta tidak kompromi pada kejahatan. Bagi Yesus, hidup dan karya-Nya
adalah pertanggung-jawaban pada perutusan Allah; dan karena Allah adalah
kasih maka jalan yang dipilih Yesus bukan jalan kekerasan, tetapi jalan
kasih. Dalam kehidupan keagamaan, Yesus bukan orang yang sangat
menekankan pelaksanaan hukum secara buta. Dengan cara hidup dan
ajaran-Nya, Yesus mau mengantar orang di jalan kebenaran dan hidup. Dan
jalan itu bisa terwujud kalau orang memiliki hubungan pribadi dengan
Allah dan berjuang mewujudkan relasi kasih dengan sesama.
Dalam
syahadat iman, kita mengamini bahwa Yesus itu menderita dan wafat
karena hukuman di masa Pontius Pilatus. Ini bukan berarti Yesus bersalah
maka dihukum, tetapi menunjuk pada unsur historis bahwa Yesus bukan
tokoh imaginatif, bukan bohong-bohongan; Yesus sungguh-sungguh ada dan
hidup. Di zaman Pontius Pilatus itulah Dia menderita dan disalibkan.
Maka sebetulnya Kitab Suci sudah dengan sangat jelas mengungkapkan
siapa itu Yesus bagi dunia. Tetapi yang dikehendaki pengenalan akan
Yesus bukan sampai pada pengetahuan kitab; bukan sampai pada slogan atau
informasi, tetapi harus sampai pada “hati yang beriman”. Kualitas
pengenalan terletak pada relasi / pengalaman pribadi dengan Yesus, bukan
jiplakan dari kata orang. Hati yang beriman itu akan melahirkan sifat
dan sikap iman yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Engkau adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup
Jawaban Petrus ini lahir dari pengalaman pribadinya dengan Yesus.
Petrus tidak terpengaruh oleh apa yang dikatakan orang tentang Yesus,
malahan dia menggunakan itu sebagai sarana memurnikan keyakinannya.
Dapatkah seorang pengikut Kristus menggunakan tantangan dan kesulitan
iman sebagai sebuah kesempatan untuk mempertajam keyakinannya? Atau
mungkin kita begitu mudah goncang karena tantangan dalam bentuk
pertanyaan, kritik dan gugatan atas iman kita?
Jawaban Petrus
yang mewakili para murid membuktikan bahwa iman itu harus
dipertanggung-jawabkan dalam hidup sehari-hari. “Seperti tubuh tanpa roh
adalah mati demikian iman tanpa perbuatan adalah mati.” Kita sudah
dengar banyak tentang siapa itu Yesus, sekarang apa yang kita sendiri
katakan tentang DIA? Mudah-mudahan jawaban kita tidak jauh dari jawaban
Petrus: “Engkau adalah Mesias, anak Allah yang hidup!” Berkah Dalem
Sumber. Indocell.com
About the Author
Write admin description here..
Get Updates
Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.
Share This Post
Related posts
0 comments: